The Art Of Forgiving

Posted: 13 October 2009 in Introspeksi

“Mengampuni adalah bentuk kasih yang tertinggi dan teragung. Sebagai imbalannya, engkau akan memperoleh damai sejahtera serta kebahagiaan” (Robert Muller)

Sue Norton tinggal di Arkansas City, Kansas, Amerika Serikat. Suatu hari di bulan Januari 1990, ia menerima kabar dari saudara laki-lakinya yang mengguncang hatinya. Richard Denny, ayah yang sangat mereka sayangi, ditemukan tewas terbunuh di rumah peternakan mereka di suatu daerah terpencil di Oklahoma. Seseorang telah menembak orang tua itu, merampok uangnya yang tak seberapa dan mengambil truk tua satu-satunya. Sue tak habis pikir mengapa ada orang yang tega melukai seorang tua dan miskin seperti itu. Kematian ayahnya sangat merobek hatinya.

Beberapa waktu kemudian, Sue menghadiri persidangan pembunuh ayahnya, Robert Knighton. Perasaannya campur aduk tak menentu. Ia merasakan atmosfer kebencian yang menyelimuti setiap orang di ruang sidang hari itu. Mereka berharap Sue merasa benci atau bahkan dendam kepada pembunuh keji itu. Anehnya, Sue tidak membenci Robert seperti yang mereka harapkan.

Pada malam sebelum persidangan terakhir, Sue gelisah. Makan tak enak, tidur pun tak nyenyak. Akhirnya ia datang kepada Tuhan, dan berdoa sungguh-sunguh agar Tuhan menolongnya. Paginya, Tuhan menaruh pikiran ini dalam hatinya, “Sue, engkau tak harus membenci Robert Knight. Engkau dapat mengampuni dia.”

Pagi itu, di sela-sela persidangan, Sue mencari waktu untuk mengunjungi Robert di selnya. Kenangnya, “Waktu itu saya sangat ketakutan. Ini pengalaman pertama saya masuk penjara, dan saya akan bertemu pembunuh ayah saya”. Akhirnya ia berjumpa Robert Knighton yang berperawakan tinggi kekar dan bermata dingin. Mulanya ia menolak menatap Sue dan membelakanginya. Ketika Sue memintanya untuk berbalik, tiba-tiba pria kasar itu membentaknya, “Kenapa ada orang yang masih mau berbicara denganku setelah apa yang aku perbuat?” Jawab Sue, “Aku sendiri tak tahu alasannya. Namun aku ingin kau tahu, bahwa aku tidak membencimu. Nenekku dahulu selalu mengajariku untuk tidak menggunakan kata ‘benci’ di dalam hidupku. Beliau mengajari aku untuk hidup berdampingan dan saling mengasihi. Jadi, kalau kau bersalah kepadaku, maka aku mengampunimu.”

Robert mengira Sue sedang bergurau. Ia sama sekali tidak mengerti mengapa wanita ini mau mengampuni dia. Sue berkata, “Saya tidak memandang dia sebagai pembunuh buas. Saya memandangnya sebagai manusia biasa.” Banyak orang yang mengira Sue telah kehilangan akal warasnya. Bahkan teman-teman yang dahulu mendukungnya berbalik menghindarinya. Namun ia berkata bijak, “Tak ada cara yang lebih efektif untuk menyembuhkan trauma ini selain mengampuni. Kamu harus mau mengampuni, melupakan, dan melanjutkan hidupmu seperti yang Tuhan ajarkan.”

Robert Knight akhirnya divonis hukuman mati di Oklahoma. Saat menunggu hari eksekusi, Sue sering menulis surat penghiburan kepadanya. Bahkan sesekali ia mengunjungi pria itu di selnya untuk sekedar mendoakannya. Akhirnya, Sue justru menjadi sahabat bagi pembunuh ayahnya. Dan karena kasih dan pengampunannya, Robert bertobat dan mengenal Tuhan. Di lain kesempatan, Sue menyatakan bahwa ada hal yang baik yang Tuhan ijinkan terjadi melalui kematian ayahnya ini. “Saya justru mendapat kesempatan untuk bersaksi kepada banyak orang tentang Kasih Tuhan dan kuasa pengampunan, serta menyembuhkan banyak hati yang terluka. Bahkan saya dapat membawa Robert dan orang yang akan dihukum mati mengenal Penciptanya sebelum mereka dieksekusi. Hidupku sungguh luar biasa. Saya berdamai dengan Allah dan manusia!”

Pada persidangan terakhir Robert Knight, Sue bahkan memohon agar pengadilan membatalkan hukuman mati bagi Robert. Banyak orang yang mendengar pembelaan dan pengampunannya menitikkan air mata, namun hukuman mati tetap dijalankan. Robert Knight dieksekusi di Negara bagian Oklahoma tanggal 27 Mei 2003. Kisah nyata ini mendapat perhatian luas dari rakyat Amerika karena energi kasih yang nyata yang ditunjukkan oleh Sue Norton.

Sahabat Wanita, hidup ini terkadang tidak sesuai dengan harapan dan keinginan kita. Suka tidak suka, sengaja tidak sengaja, kita tentu pernah ‘disakiti’ sekaligus ‘menyakiti’ orang lain lewat perkataan, perbuatan, dan sikap kita. Akibatnya, hati menjadi terluka. Ada kebencian, kemarahan, dan dendam kesumat yang bercampur baur dan ingin dilampiaskan kepada orang yang menyakiti kita. Kadangkala, bagi orang-orang yang lemah mental dan gelap mata, tindakan kekerasan menjadi pintu keluar termudah untuk menuntaskan dendam yang membakar hatinya. Namun bagi sebagian orang yang tidak cukup memiliki ‘nyali’ untuk melakukan tindakan anarkis, mereka menyimpan dendam dan kemarahan itu di dalam nuraninya.

Akibatnya, hatinya menjadi pahit. Hidupnya kelam. Hari-harinya menjadi suram.

MENGAPA TIDAK MAU MENGAMPUNI?

Ada beberapa sebab mengapa orang sulit mengampuni:
Victim Mentality.

Acapkali orang ‘menikmati’ keadaan sebagai ‘korban’ yang paling malang di dunia. Ia jadi terpuruk dalam sikap mengasihani diri sendiri dan menjadi tidak peduli terhadap keberadaan orang lain. Bahkan, seringkali ia menikmati ‘belas kasihan’ dan perhatian yang ditujukan kepadanya.
Merasa Harga Diri Direndahkan.

Demi ‘membela’ harga diri di mata manusia, seseorang mempertaruhkan seluruh hartanya, bahkan menghalalkan segala cara demi mengejar kepuasan semu. Sesungguhnya kemuliaan dan harga diri yang sejati, kita peroleh jika kita merendahkan diri di hadapan Tuhan!
Kesombongan.

Seringkali kita merasa sebagai orang yang paling baik, paling layak, dan ‘paling-paling’ yang lain, sehingga kita bak pualam yang mahal yang tak mungkin bisa tersentuh apalagi dibuat retak dan pecah akibat perbuatan orang lain. Dengan demikian, kita memandang rendah orang lain.
Tidak Ada Lagi Kambing Hitam Yang Bisa Dipersalahkan.

Ada perasaan kehilangan target ‘kambing hitam’ yang bisa selalu dimaki, disalahkan, dan dipermalukan jika kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita

INDAHNYA MENGAMPUNI
Mengampuni adalah suatu hal yang mulia, namun memang tidak mudah. Saat seseorang menyakiti hatimu, kadang sulit untuk memadamkan amarah di dada. Biarpun demikian, pengampunan sangat mungkin dilakukan – dan hal ini akan sangat berpengaruh positif terhadap kesehatan mental dan fisik Anda.

Jadi, bagaimana kita mulai mengampuni? Cobalah beberapa langkah ini:
Datang Pada Tuhan, Sumber Kasih & Pengampunan.

Dengan kekuatan sendiri, mustahil kita bisa mengampuni. Dekatkan dirimu kepada Tuhan, bertobat dan minta ampun atas segala kesalahan kita, dan terimalah pengampunanNYA.
Tenangkan Dirimu.

Untuk mengurangi amarah, cobalah teknik manajemen stress sederhana ini. “Tarik nafas panjang, dan pikirkanlah hal-hal yang menyenangkan Anda, seperti pemandangan yang indah atau orang-orang yang Anda kasihi.”
Ambil Inisiatif.

Jangan tunggu orang yang bersangkutan minta maaf. Tidak peduli bagaimana responnya, yang penting Anda sudah berbuat tepat dan benar untuk diri Anda sendiri. Anda telah bebas dari tirani kepahitan hati yang menindas. Bila belum sanggup bertemu secara langsung, gunakan teknologi yang ada sebagai pendahuluan dari pertemuan yang sesungguhnya. Contoh: sms, telepon, surat, email, dll.
Bersabarlah.

Kalau kepedihan Anda begitu mendalam. Anda bisa ‘mencicil’ pengampunan itu sedikit demi sedikit.
Ampunilah “Secara Eceran” bukan “Grosiran”.

Mengampuni secara global hampir mustahil untuk dilakukan. Fokuslah pada perbuatan tertentu yang menyinggung Anda. Mungkin akan membantu jika Anda menulisnya.
Cobalah Dari Sudut Pandang Orang Yang Menyinggung Anda.

Jika Anda berempati kepada orang itu, bisa jadi Anda akan memahami mengapa ia sampai menyakiti Anda.
Setelah itu, Fokuskan Energi Anda Untuk Memandang Keuntungan-keuntungan Mengampuni.
Jangan Lupa Mengampuni Diri Sendiri.

Bagi banyak orang, mengampuni diri sendiri adalah bagian yang tersulit, namun hal itu dapat merampas rasa percaya dirimu jika tidak dilakukan. Bersikap apa adanya sangat penting. Akuilah kesalahan Anda, SELAMAT MENGAMPUNI DAN DIPULIHKAN”

Forgiveness does not change the past, but it does enlarge the future….

Diposkan oleh : Herry Sembodo

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s