ABG Gaul

Posted: 12 October 2009 in Cerita Kita

Minggu pagi yang cerah dimulai dengan rutinitas bulanan yaitu service motor dibengkel langganan Mas Jawir, berlokasi disebelah pemakaman umum Basmol, selain harga service yang murah, juga bebas belanja sendiri separe-part yang kita butuhkan, Mas Jawir ini terkenal dengan keahliannya memperbaiki speda motor, tak heran banyak yang percaya kepadanya.

Sengaja aku datang lebih pagi, agar motorku dikerjakan lebih dulu, soalnya jika sudah kesiangan pasti antri, btw saking paginya ketika kudatang kulihat pemandangan yang sangat mengenaskan, Mas Jawir dalam kondisi tidur dan tak sadarkan diri sambil memeluk bantal yang sudah basah.

Waduh… Masih tidur nih, dgn perlahan kuketuk pintunya sampai ia terbangun, lalu dengan sengaja kukatakan, ya udah mas terusin aja tidurnya saya tungguin deh sambil basa basi, nah klo udah gitu kan dia bakalan gelisah dan gaenak hati, sambil menunggu ingatannya connect, ga lama ia keluar mandi dengan sedikit menggerutu mungkin, ya tapi setidaknya rencanaku berhasil.

Alhasil Mas Jawir langsung menservice motorku, ia bercerita tentang ponakannya yang buandel dan tidak lain temenku juga, ya biasa lah “anak muda mas” kataku, ia sih buandel kalo masi mau kerja sih mending, daripada udah buandel ga mau kerja, “ujarnya enteng”.

Tidak lama berselang istri mas Jawir pulang dari pasar, juga langganan datang langsung ambil posisi antri yang rupanya mendengar percakapan kami, dan kaya bensin langsung menyambar istri mas Jawir cerita tentang anaknya Emi yang sudah menginjak ABG dan selalu minta yang aneh-aneh, seperti baju selalu baru, minyak wangi, bedak, dll yang padahal belum lama dibelikan, belum lagi dengan aktifitas les lah, belajar bersama yang cuma sebagai alasan, aku cuma bilang “namanya juga ABG mba”, sambil becanda dan langganan yang masih teman juga bilang “dikawinin aja sama anak haji”, lah kan yang haji bapaknya ujar istri mas Jawir enteng.., atau “dikawinin aja sama anaknya bos”, lah kan yang bos bapanya.., dan belum tentu anaknya bisa jadi bos juga, ia… ya jawab sipemberi ide kebingungan (bener juga ya), mas jawir dan aku pun tertawa sambil memperhatikan moment sepontanitas dari kejadian tersebut.

Setelah mas Jawir selesai dengan motorku, akupun mohon diri sambil tertawa mengingat kejadian tadi di bengkel mas Jawir yang spontan tetapi penuh pemahaman.
Ternyata pandangan si pemberi ide berbeda dengan pandangan istri mas Jawir yang polos tetapi mengandung kebenaran, dan sekali lagi kubilang “namanya juga ABG”.

Ditulis oleh: inang

Cerita ini diposkan dengan menggunakan Aplikasi Handphone.

Posted by Wordmobi

Comments are closed.