Kaya Karena Sederhana

Posted: 28 September 2009 in Introspeksi

Menjadi orang kaya, itulah cita-cita banyak sekali orang. Hal yang sama juga pernah melanda saya.  Dulu, ketika masih duduk di bangku SMU, kemudian menyaksikan ada rumah indah dan besar, dan di depannya duduk sepasang orang tua lagi
menikmati keindahan rumahnya, sering saya bertanya ke diri sendiri : akankah saya
bisa sampai di sana?.

Sekian tahun setelah semua ini berlalu, setelah berkenalan
dengan beberapa orang pengusaha yang kekayaan perusahaannya bernilai triliunan
rupiah, duduk di kursi tertinggi perusahaan, atau menjadi penasehat tidak sedikit
orang kaya, wajah-wajah hidup yang kaya sudah tidak semenarik dan seseksi
bayangan dulu.

Penyelaman saya secara lebih mendalam bahkan menghasilkan sejumlah ketakutan
untuk menjadi kaya. Ada orang kaya yang memiliki putera-puteri yang bermata
kosong melompong sebagai tanda hidup yang kering. Ada pengusaha yang menatap
semua orang baru dengan tatapan curiga karena sering ditipu orang, untuk
kemudian sedikit-sedikit marah dan memaki. Ada sahabat yang berganti mobil
termewah dalam ukuran bulanan, namun harus meminum pil tidur kalau ingin tidur
nyenyak. Ada yang memiliki anak tanpa Ibu karena bercerai, dan masih banyak lagi
wajah-wajah kekayaan yang membuat saya jadi takut pada kekayaan materi.

Dalam tataran pencaharian seperti ini, tiba-tiba saja saya membaca karya Shakti
Gawain dalam jurnal Personal Excellence edisi September 2001 yang menulis : ?If
we have too many things we dont truly need or want, our live become overly
complicated?. Siapa saja yang memiliki terlalu banyak hal yang tidak betul-betul
dibutuhkan, kehidupannya akan berwajah sangat rumit dan kompleks.

Rupanya saya tidak sendiri dalam hal ketakutan bertemu hidup yang amat rumit
karena memiliki terlalu banyak hal yang tidak betul-betul diperlukan. Shakti Gawain
juga serupa. Lebih dari sekadar takut, di tingkatan materi yang amat berlebihan,
ketakutan, kecemasan, dan bahkan keterikatan berlebihan mulai muncul.

Masih segar dalam ingatan, bagaimana tidur saya amat terganggu di hari pertama
ketika baru bisa membeli mobil. Sebentar-sebentar bangun sambil melihat garasi.
Demikian juga ketika baru duduk di kursi orang nomer satu di perusahaan.
Keterikatan agar duduk di sana selamanya membuat saya hampir jadi paranoid.
Setiap orang datang dipandang oleh mata secara mencurigakan. Benang merahnya,
kekayaan materi memang menghadirkan kegembiraan (kendati hanya sesaat),
namun sulit diingkari kalau ia juga menghadirkan keterikatan, ketakutan dan
kekhawatiran. Kemerdekaan, kebebasan, keheningan semuanya diperkosa habis
oleh kekayaan materi.

Disamping merampok kebebasan dan keheningan, kekayaan materi juga
menghasilkan harapan-harapan baru yang bergerak maju. Lebih tinggi, lebih tinggi
dan lebih tinggi lagi. Demikianlah kekayaan dengan amat rajin mendorong manusia
untuk memproduksi harapan yang lebih tinggi. Tidak ada yang salah dengan memiliki
harapan yang lebih tinggi, sejauh seseorang bisa menyeimbangkannya dengan rasa
syukur. Apa lagi kalau harapan bisa mendorong orang bekerja amat keras, plus
keikhlasan untuk bersyukur pada sang hidup. Celakanya, dalam banyak hal terjadi,
harapan ini terbang dan berlari liar. Dan kemudian membuat kehidupan berlari
seperti kucing yang mengejar ekornya sendiri.

Berefleksi dan bercermin dari sinilah, saya sudah teramat lama meninggalkan
kehidupan yang demikian ngotot mengejar kekayaan materi. Demikian tidak
ngototnya, sampai-sampai ada rekan yang menyebut saya bodoh, tidak mengerti
bisnis, malah ada yang menyebut teramat lugu. Untungnya, badan kehidupan saya
sudah demikian licin oleh sebutan-sebutan. Sehingga setiap sebutan, lewat saja
tanpa memberikan bekas yang berarti.

Ada sahabat yang bertanya, bagaimana saya bisa sampai di sana ? Entah benar
entah tidak, dalam banyak keadaan terbukti kalau saya bisa berada di waktu yang
tepat, tempat yang tepat, dengan kemampuan yang tepat. Ketika ada perusahaan
yang membutuhkan seseorang sebagai pemimpin yang cinta kedamaian, saya ada
di sana. Tatkala banyak perusahaan kehilangan orientasi untuk kemudian mencari
bahasa-bahasa hati, pada saat yang sama saya suka sekali berbicara dan menulis
dengan bahasa-bahasa hati. Dikala sejumlah kalangan di pemerintahan mencari-cari
orang muda yang siap untuk diajak bekerja dengan kejujuran, mereka mengenal dan
mengingat nama saya. Sebagai akibatnya, terbanglah kehidupan saya dengan
tenang dan ringan. Herannya, bisa sampai di situ dengan energi kengototan yang di
bawah rata-rata kebanyakan orang. Mungkin tepat apa yang pernah ditulis Rabin
Dranath Tagore dalam The Heart of God : ?let this be my last word, that I trust in
Your Love?. Keyakinan dan keikhlasan di depan Tuhan, mungkin itu yang menjadi
kendaraan kehidupan yang paling banyak membantu hidup saya.

Karena keyakinan seperti inilah, maka dalam setiap doa saya senantiasa memohon
agar seluruh permohonan saya dalam doa diganti dengan keikhlasan, keikhlasan
dan hanya keikhlasan. Tidak hanya dalam doa, dalam keseharian hidup juga
demikian. Ada yang mau menggeser dan memberhentikan, saya tidak melawan. Ada
yang mengancam dengan kata-kata kasar, saya imbangi secukupnya saja. Ada
sahabat yang menyebut kehidupan demikian sebagai kehidupan yang terlalu
sederhana dan jauh dari kerumitan. Namun saya meyakini, dengan cara demikian
kita bisa kaya dengan jalan sederhana. (Gede Prama)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s