Hadiah Terbaik Untuk Diri Sendiri

Posted: 28 September 2009 in Introspeksi

Setiap orang pernah mengalami masa-masa sulit dalam kehidupan. Ada masa sulit
dalam berumah tangga, kehidupan karir, kesehatan, atau kehidupan pribadi yang
diguncang badai. Kebanyakan juga setuju kalau masa-masa sulit ini bukanlah
keadaan yang diinginkan. Sebagian orang bahkan berdoa, agar sejarang mungkin
digoda oleh keadaan-keadaan sulit. Sebagian lagi yang dihinggapi oleh kemewahan
hidup ala anak-anak kecil, mau membuang jauh-jauh, atau lari sekencangkencangnya
dari godaan hidup sulit.

Akan tetapi, sekencang apapun kita menjauh dari kesulitan, ia tetap akan menyentuh
badan dan jiwa ini di waktu-waktu ketika ia harus datang berkunjung. Rumus besi
kehidupan seperti ini, memang berlaku pada semua manusia, bahkan juga berlaku
untuk seorang raja dan penguasa yang paling berkuasa sekalipun.

Sadar akan hal inilah, saya sering mendidik diri untuk ikhlas ketika kesulitan datang
berkunjung. Syukur-syukur bisa tersenyum memeluk kesulitan. Tidak dibuat sakit
dan frustrasi saja saya sudah sangat bersyukur. Pelukan-pelukan kebijakan seperti
inilah yang datang ketika sang hidup sempat membanting saya dari sebuah
ketinggian. Sakit memang, tapi karena ia sudah saatnya datang berkunjung, dan kita
tidak punya pilihan lain terkecuali membukakan pintu rumah kehidupan, maka
seterpaksa apapun hanya keikhlasanlah satu-satunya modal berguna dalam hal ini.

Senyum penerimaan terhadap kesulitan memang terasa kecut di bibir. Dan
sebagaimana logam yang sedang dibuat menjadi patung indah, kesulitan memang
terasa seperti semprotan panasnya api mesin las, dihajar oleh palu besar,
kencangnya cubitan tang, menyakitkannya goresan-goresan amplas kasar, atau
malah tidak enaknya bau cat yang menyelimuti selu! ruh badan patung logam.

Semua tahu, kalau badan dan jiwa ini kemudian akan menjadi ‘patung logam’ yang
lebih indah dari sebelumnya. Tetapi tetap saja ada sisa-sisa ketakutan – dan bahkan
mungkin trauma – yang membuat kita manusia menghindar dari kesulitan.

Cuma selebar apapun goresan luka yang dibuat oleh kesulitan, ada mahluk yang
amat berguna dan amat dibutuhkan dalam pengalaman-pengalaman menyakitkan ini,
ia bernama sahabat. Tidak semua sahabat fasih memberikan nasehat. Tetapi
dengan kesediaannya untuk mendengar, sinaran mata yang berisi empati, kesediaan
untuk menjaga rahasia, sahabat menjadi permata berlian yang amat berguna dalam
keadaan-keadaan ini.

Di rumah saya memiliki seorang sahabat yang amat mengagumkan. Dari segi
pendidikan formal ia hanya tamatan SMU. Bahkan SMU tempat ia bersekolah dulu
sudah bubar, sebagai tanda ia bukanlah berasal dari sekolah yang terlalu
membanggakan. Namun nasehat serta keteladanan hidupnya kadang
mengagumkan.

Di kantor saya memiliki sejumlah bawahan yang datang sama manisnya baik ketika
dipuji maupun setelah di! maki. Seorang tetangga menelpon, mengirim SMS dan
bahkan menyempatkan diri berkunjung ke rumah. Tidak untuk memberikan ceramah,
hanya untuk mendengar. Seorang sahabat dekat yang memimpin sebuah raksasa
teknologi informasi bahkan mengatakan bangga menjadi sahabat saya.

Ketika tulisan ini dibuat, seorang sahabat lama yang tinggal di Surabaya menelepon,
tanpa bermaksud menggurui ia mengutip kata-kata indah Confucius ‘Manusia salah
itu biasa, tetapi menarik pelajaran dari kesalahan itu baru luar biasa’.

Apa yang mau saya tuturkan dengan semua ini, rupanya sahabat adalah hadiah
paling berharga yang bisa kita berikan pada diri kita sendiri. Secara lebih khusus
ketika kita ditimpa kesulitan yang menggunung. Sehingga patut direnungkan, kalau
kita perlu menabung perhatian, empati, cinta buat para sahabat. Tidak untuk
berdagang dengan kehidupan. Dalam arti, memberi dengan harapan agar diberi
kelak. Melainkan, sebagaimana cerita dan pengalaman di atas, dalam dunia
persahabatan, dalam memberi kita sebenarnya sudah diberi. Bahkan, setiap sahabat
yang memberi perhatian dan empati pada sahabat lainnya, ketika itu juga mengalami
the joy of giving. Ketika itu juga seperti ada beban di bahu yang berkurang jauh
beratnya.

Ada memang orang yang memiliki banyak sekali teman. Kemana-mana namanya
dipanggil orang. Cuman, sedikit diantara semua teman yang banyak ini kemudian
bisa menjadi sahabat. Bercermin dari kenyataan inilah, maka saya lebih
memusatkan diri untuk mencari dan membina sahabat.

Jumlahnya memang tidak akan pernah banyak. Bahkan ia lebih sedikit dari jumlah
jari tangan. Cuma sesedikit apapun jumlahnya, sahabat tetap sejenis hadiah terbaik
yang bisa kita bisa berikan buat diri sendiri.

Mobil mewah memang bisa membawa kita ke tempat jauh lengkap dengan
gengsinya. Rumah mewah memang bisa meningkatkan kenyamanan tinggal
sekaligus meningkatkan kelas. Ijazah lengkap dengan gelarnya yang mentereng juga
bisa meningkatkan percaya diri. Akan tetapi, baik mobil mewah, rumah mewah
maupun ijazah tidak bisa menghadirkan empati yang menyentuh hati

Di sebuah Sabtu pagi, seorang sahabat yang membaca harian Kompas yang
memberitakan bahwa saya mengundurkan diri dari jabatan presiden direktur di
sebuah kelompok usaha amat besar di negeri ini, langsung menelepon saya dari
tempat yang jauh. Ia berucap sederhana: ‘saya bangga jadi teman Anda’. Inilah
hadiah terbaik yang bisa dihadiahkan ke diri sendiri. Ia tidak dibungkus kado, ia juga
tidak hanya datang ketika hari raya atau ulang tahun. Ia justru lebih sering datang
ketika kita amat membutuhkannya. (Gede Prama)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s