Kembang Lusuh

Posted: 14 September 2009 in Introspeksi

Sunyi dan sepi meliputiku, seakan semuanya berganti, kebahagaian dan keindahan hidup hampir tak dapat kunikmati lagi, aku merasa begitu gamang, keyakinan yang runtuh dan perasaan yang tak pasti membuatku semakin jauh tenggelam, apa lagi ketika malam menjelang, semakin terasa kesedihan, kepedihan, serta penyesalan atas apa yang terjadi, apakah ini takdir, nasib atau memang semuanya kesalahan ku sendiri.

Perjalanan ku terukir dengan segala macam problematik hidup, banyak sudah yang kulewati hingga membentukku seperti sekarang ini, pahit, manis, dan penuh penyesalan, Namaku Aryati, Anastasia Aryati, aku dibesarkan dikeluarga yang taat beragama, dimana aku tumbuh dan ikut aktif dalam banyak kegiatan rohani.

Suatu hari aku bertemu dengan seorang sahabat yang banyak menyita perhatianku, seorang sahabat yang kuaggap khusus, begitu baik, karismatik, serta sangat memperhatikan ku, kulabuhkan pilihan hatiku kepadanya, hubungan kami terbentur oleh keyakinan yang berbeda, tapi aku sangat mencintainya, hingga takut berpisah darinya.

Pertengkaran ataupun beda pendapat membuat aku coba selalu mengalah untuk mengikuti apapun keinginannya, terlebih ketika ia menjelaskan tentang keyakinnya, begitu beralasan dan membuat tersudut dan mencoba memahami banyak resikonya, tetapi yang paling ku ingat adalah aku begitu sangat mencintainya,

Ia membimbingku utuk memahami lebih dalam tentang keyakinannya, akupun tertarik, karena yang terpenting aku bisa bersamanya, semua teman-temannya mendukung, seakan semuanya begitu indah, seakan inilah yang memang kucari, sampai tiba saatnya aku disumpah untuk setia pada keyakinan ku yg baru, dengan begitu banyak saksi-saksi yang mendukung dan memberikan ucapan selamat kepadaku.

Kujalani indahnya bersama dirinya, kubayangkan aku kan bahagia bersamanya, karena tak ada lagi rintangan yang menghalangi hubunganku, tetapi tak kusangka keluarga besarku sangat marah mendengarnya, dan berjanji tidak akan pernah merestui hubungan kami, Aku mencoba berfikir, mencari jalan keluarnya, bila keluarga tidak mendukung kami, kami akan tetap melanjutkan hubungan dan melanjutkan ke pernikahan.

Setidaknya aku masih memilikinya, kekasih yang sangat kucintai, karena ia sebagai panutanku, sebagai pelindungku, menjagaku dengan kesabarannya, dan dengan ketaqwaannya ia dapat membimbingku. Aku sangat yakin sekali dengan dirinya yang begitu baik, sopan, dan penuh kedewasaan. Kurasa inilah dambaan setiap wanita, dan aku menuju jalan yang tepat.

Hari-hari demi hari berlalu, ia coba mgutarakan kendala pada hubungan kami, orang tuanya takkan menikahi jika orang tuaku tak merestui, ku hanya terdiam, aku percaya apapun keputusannya pasti yang tebaik dan takkan mengecewan aku.

Tapi diluar dugaan ia mengatakan bahwa hubungan kita tidak dapat diteruskan lagi dan terlebih lagi ia telah lama menjalin hubungan dengan seorang gadis yang telah disetujui oleh kedua orang tuanya, bahkan yang paling menyakitkan ia mengatakan bahwa sebenarnya tidak mencintaiku……

Aku tak bisa berkata-kata, seakan semuanya buyar…, dan seolah tak percaya semuanya terjadi, aku tak bisa menerima keputusan itu, setelah semua yang kulakukan untuk cintaku, cinta kita…

Hancur sudah harapanku, mimpi-mimpiku, telah kuberikan segalanya, hatiku, hidupku, bahkan keyakinanku…, semudah itu kau mengatakannya…..

Engkau yang selama ini kuanggap sebagai seorang malaikat penolong, yang dapat membimbingku dengan segala ketaqwaannya, kebaikannya, serta tutur kata yang penuh dengan kedewasaan…., ternyata hanya …….. menginginkan kegadisanku…….

Hatiku, jiwaku seakan meronta tak bisa menerima semuanya, dan takan pernah bisa menerima…..

Tak sanggup aku menerima kenyataan ini, tak henti-hentinya aku menangis dan menyesali semua kejadian ini, kalau saja ia mengatakan sejak awal…., aku malu kepada teman-teman, keluarga, diri sendiri, terlebih pada Tuhan, hingga tak berani aku memohon, bahkan malu untuk meminta pertolongan-Nya…….

Aku seperti kembang yang layu dan lusuh, kembang yang kehilangan semerbak wanginya, yang hanya bisa pasrah dan tak tau harus bagaimana lagi supaya aku bisa melanjutkan kehidupanku dengan melupakan semua pengalaman ini.

Ditulis oleh : Inang

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s