Kesendirian Memiliki Keindahan

Posted: 26 August 2009 in Introspeksi

Saya tidak tahu apakah Anda pernah merasa kesepian; ketika tiba-tiba Anda menyadari bahwa Anda tidak punya hubungan dengan siapa pun—bukan suatu kesadaran intelektual, melainkan kesadaran aktual … dan Anda terisolasi sepenuhnya. Setiap pikiran dan emosi terhalang; Anda tidak bisa berpaling ke mana pun; tidak ada siapa pun untuk didatangi: Tuhan, dewa, malaikat, semua telah lenyap di balik awan, dan ketika awan itu lenyap, mereka juga lenyap; Anda sepenuhnya kesepian—saya tidak akan menggunakan kata ‘sendirian’.
’Sendiri’ mempunyai arti yang lain sekali; ’sendiri’ memiliki keindahan. Berada ’sendiri’ mempunyai makna yang sama sekali lain. Dan Anda harus berada sendiri. Bila manusia membebaskan diri dari struktur sosial dari keserakahan, iri hati, ambisi, arogansi, pencapaian, status—jika ia membebaskan diri dari semua itu, maka ia berada sepenuhnya sendiri. Itu hal yang lain sekali. Maka di situ terdapat keindahan besar, rasa akan energi yang besar.

Kesendirian Bukan Kesepian
Sekalipun kita semua sama-sama manusia, kita membangun dinding di antara kita dan tetangga kita melalui nasionalisme, melalui ras, kasta, dan kelas—yang lalu menimbulkan isolasi, kesepian.
Nah, batin yang terperangkap dalam kesepian, dalam keadaan terisolasi, tidak mungkin dapat memahami apa itu agama. Ia mungkin percaya, ia mungkin memiliki teori, konsep, akidah, ia mungkin mencoba menghubungkan dirinya dengan apa yang disebutnya ’Tuhan’; tetapi agama, menurut saya, tidak ada hubungannya sama sekali dengan kepercayaan apa pun, dengan rohaniwan apa pun, dengan lembaga keagamaan apa pun, atau apa yang dinamakan ’kitab suci’ mana pun. Keadaan batin yang religius hanya dapat dipahami apabila kita mulai mengerti apa itu keindahan; dan pemahaman keindahan harus didekati melalui kesendirian total. Hanya apabila batin berada sendiri sepenuhnya, ia dapat mengetahui apa itu keindahan, dan tidak dalam keadaan lain apa pun.
Kesendirian jelas bukan isolasi, dan itu bukan keunikan. Unik hanyalah sekadar istimewa dalam salah satu hal, sedangkan untuk berada sendiri sepenuhnya dituntut kepekaan, kecerdasan, pemahaman luar biasa. Untuk berada sendiri sepenuhnya berarti batin sepenuhnya bebas dari segala macam pengaruh, dan oleh karena itu tidak tercemar oleh masyarakat; dan ia harus berada sendiri untuk memahami apa itu agama—yang berarti menemukan sendiri apakah ada sesuatu yang abadi, di luar waktu.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s