Menjual Air Sungai

Posted: 4 August 2009 in Cerita Refleksi

Khotbah sang Guru pada hari itu hanya terdiri dari satu kalimat penuh teka-teki.

Ia tersenyurn lemah dan mulai berkata:
‘Satu-satunya yang aku kerjakan di sini hanyalah duduk di pinggir sungai dan menjual air sungai.’

Dan khotbahnya sudah selesai.

Seorang penjual air mendirikan warung di pinggir sungai, dan ribuan orang datang berduyun-duyun untuk membeli air darinya. Penjualannya laku semata-mata karena mereka tidak melihat sungai. Bila nanti mereka melihatnya, usahanya akan gulung tikar.

Seorang pengkhotbah amat berhasil. Ribuan orang datang untuk belajar kebijaksanaan darinya. Setelah kebijaksanaan diperoleh, mereka berhenti mendengarkan khotbahnya. Dan si pengkotbah tersenyum puas. Sebab ia sudah mencapai tujuannya, yaitu mundur secepatnya. Sebab, di dalam hatinya ia menyadari, bahwa apa yang ia berikan kepada orang-orang hanyalah apa yang sebetulnya sudah mereka punyai, asal mereka mau membuka mata dan melihat. ‘Jikalau Aku tidak pergi,’ kata Jesus kepada murid-muridnya, ‘Roh Kudus tidak akan datang.’

Jikalau Anda berhenti menjual air, barangkali orang mendapat kesempatan yang lebih baik untuk melihat sungai.  (Anthony De Mello SJ)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s