Mencoba Seimbang

Posted: 1 August 2009 in Introspeksi

Oleh : Ignatius Heru

Senja itu, setelah pulang kerja, kucoba menikmati malam dengan ditemani secangkir teh panas, dan diiringi dengan sentuhan musik pop karya musisi Indonesia, mendengarkan tentang suara alam, restu bumi, satu sisi yang membawaku menemukan pemahaman-pemahaman tentang kegelisahan hati.

Ingin sekali aku melakukan sesuatu, membuat sesuatu yang bisa bermanfaat bagi orang lain, mungkin aku bukan apa-apa, mungkin aku tidak sehebat kalian, sepandai kalian, atau munkin pendidikanku tidak setinggi kalian, tapi setidaknya aku juga ingin melakukan sesuatu bagi orang lain, atau paling tidak aku ingin selalu berusaha.

Kuteguk teh yang sudah tak panas lagi, sambil kembali resapi tentang pengertian-pengertian yang terjadi dalam kesaharian, potongan kejadian-kejadian yang kuanggap mempunyai makna, tujuan atau mungkin jawaban dari sesuatu yang terjadi.
Seandainya saja aku mampu memahami banyak hal tentang kejadian dalam hidup ini, mungkin kehidupanku akan menjadi lebih baik lagi, walau masih banyak kekurangan-kekurangan dalam kehidupanku, tetapi setidaknya aku sangat bersyukur dapat merasakan hal ini.

Malam semakin larut, sementara aku masih hanyut mencari jawaban atas kegelisahan hatiku yang tertutup oleh kuatnya gelombang pikiran dan hayalan, ku coba mengurai gelombang-gelombang manakah yang memang aku butuhkan?
Aku percaya bahwa Tuhan memberikan yang terbaik kepada umat-Nya, sekecil apapun suatu ciptaan-Nya mempunyai manfaat, dan aku selalu berharap dari segala kekurangan dan ketebatasanku juga mempunyai manfaat bagi orang lain.

Perhatianku terusik oleh masuknya email dari teman-teman lama untuk sekedar menyapa, bercerita, dan beberapa yang menyombongkan keberhasilan dalam bidang usaha ataupun rohani, dengan sesekali meremehkan, tetepi lepas dari itu semua mereka mempunyai banyak pengaruh dalam perkembangan pribadiku, pengalaman bersama mereka hingga aku dapat menemukan pilihan jalan yang terbaik yaitu keseimbangan.

Bicara mengenai keseimbangan tidak semudah kita menuliskannya, yang usaha cenderung memanfaatkan segala cara untu mendapatkan keuntungan, karena setidaknya aku pernah mengalami hal demikian, yang rohani dengan banyaknya kegiatan cenderung melupakan keaadaan keluarga, pergaulan dengan merasa lebih baik karena mengikuti banyak kegiatan rohani, atau berapa banyak teman kita yang aktif mengikuti banyak kegiatan rohani ternyata mempunyai banyak permasalahan keluarga, mungkin demi tranggung jawab, formalitas, atau …

“No body perfect”, itulah jawaban yang tepat, karena masih banyaknya kekurangan yang kita miliki, tetapi setidaknya secara pribadi saya mau jujur terhadap dirisendiri, dari apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan…

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s